Sajak Pusi untuk Nani Roy

Diposting oleh acuhlexton pada 17:17, 02-Sep-16

nani.jpg

Dari sisa-sisa suaramu, waktu saling sapa di persimpangan jalan, dadaku seperti gelembung yang nampak. Kamu seolah riang dan bercanda ke sana-ke mari. Padahal aku paling tahu, itu tak mungkin. Seperti halnya menemukan tawa dari orang lain. Namun, saat kenyataan bagiku cara tertawa paling indah adalah milikmu! Hari-hari itu, embun pulang pagi lalu pergi lagi. Sehingga dari kaca jendela, bercerita segala tentangmu. Menyenangkan, saat kita pernah berkali-kali bertemu. Di jalan itu, yang padahal mungkin tidak ingin kau lalui; namun aku menitip puisi, untuk senyummu. Oya, sajak puisi ini tak hujan. Angin aksaranya tak begitu kencang. Seperti hari itu. Apa kabar, Nani? Salam santun dari saya!

Catatan lain tentang Shinta Febriany

Diposting oleh acuhlexton pada 22:58, 30-Mei-16

ThumbnailAfrizal Malna menulis pengantar sebanyak 10 halaman, dan ditandai dengan penanda: Kalimalang, 6 Nopember 2002. Katanya di suatu paragraf: “Tidak ada huruf besar, tidak ada huruf kapital dalam seluruh puisi- puisinya. Juga tidak ada formalism tertentu dalam pemenggalan setiap baris dalam paragraf puisi-puisinya. Puisinya datang dari sebuah desain yang tidak ingin mengganggu mata. Seperti jahitan panjang yang lebih mementingkan kain... [Baca selengkapnya]

Tentang Shinta Febriany

Diposting oleh acuhlexton pada 22:55, 30-Mei-16

ThumbnailShinta Febriany Sjahrir berasal dari Soppeng, lahir di Palopo, 5 pebruari 1979, dibesarkan di beberapa kota di Sulawesi (Palopo, Soppeng, Toraja dan Makassar). Pendidikan, fakultas Sastra Jerman Universitas Hasanuddin, Makassar. Sejak tahun 1996 bergabung dalam komunitas seni Sanggar Merah Putih sebagai aktivis teater (actor, penulis, sutradara). Tahun 2000, melalui program japan foundation, mengunjungi beberapa kota di Jepang dalam perjalanan pengenalan... [Baca selengkapnya]

Sinyal pada pesta karnaval

Diposting oleh acuhlexton pada 22:51, 30-Mei-16

ThumbnailKita berada di pesta karnaval dengan pohon-pohon di sebelah kanan dan kiri dari negeri para pembohong. kau membawa balon dan membubuhkan tanda tangan di setiap pohon yang kita lewati. aku membawa pita putih dan memasang arnal di setiap pohon sebagai tanda pengenal. kita tak punya kalimat untuk bertanya dan menjawab. kita berada di pesta karnaval dan memasang sinyal tebal sebagai... [Baca selengkapnya]