Catatan lain tentang Shinta Febriany

Diposting oleh acuhlexton pada 22:58, 30-Mei-16

buku-shinta.jpg Afrizal Malna menulis pengantar sebanyak 10 halaman, dan ditandai dengan penanda: Kalimalang, 6 Nopember 2002. Katanya di suatu paragraf: “Tidak ada huruf besar, tidak ada huruf kapital dalam seluruh puisi- puisinya. Juga tidak ada formalism tertentu dalam pemenggalan setiap baris dalam paragraf puisi-puisinya. Puisinya datang dari sebuah desain yang tidak ingin mengganggu mata. Seperti jahitan panjang yang lebih mementingkan kain yang dijahit, sementara jahitan itu sendiri tidak penting, bahkan menyembunyikannya agar tak tampak.” (hlm. ix) Di lain tempat berbisik seperti ini: “ desain lain dalam puisi-puisi Shinta adalah tubuh. Tubuh sebagai pusat pemaknaan. Dalam hal ini Shinta adalah bagian dari wacana yang menggunakan tubuh sebagai ‘super perempuan’ dalam dunia penandaan perempuan. Namun super prempuan dalam konteks puisi-puisi Shinta bukan bagian dari reproduksi tubuh perempuan sebagai obyek perhiasan. Tubuh perempuan di sini lebih sebagai medan tanda: kau ingin tahu, mengapa ada tubuh yang menyekap jiwanya dengan begitu banyak tanda.” Begitu. Dan judul prolog Afrizal itu adalah sebuah batu dalam kemaluanku, metafor lipatan dalam ikon-ikon perempuan.

Tentang Shinta Febriany

Diposting oleh acuhlexton pada 22:55, 30-Mei-16

ThumbnailShinta Febriany Sjahrir berasal dari Soppeng, lahir di Palopo, 5 pebruari 1979, dibesarkan di beberapa kota di Sulawesi (Palopo, Soppeng, Toraja dan Makassar). Pendidikan, fakultas Sastra Jerman Universitas Hasanuddin, Makassar. Sejak tahun 1996 bergabung dalam komunitas seni Sanggar Merah Putih sebagai aktivis teater (actor, penulis, sutradara). Tahun 2000, melalui program japan foundation, mengunjungi beberapa kota di Jepang dalam perjalanan pengenalan... [Baca selengkapnya]

Sinyal pada pesta karnaval

Diposting oleh acuhlexton pada 22:51, 30-Mei-16

ThumbnailKita berada di pesta karnaval dengan pohon-pohon di sebelah kanan dan kiri dari negeri para pembohong. kau membawa balon dan membubuhkan tanda tangan di setiap pohon yang kita lewati. aku membawa pita putih dan memasang arnal di setiap pohon sebagai tanda pengenal. kita tak punya kalimat untuk bertanya dan menjawab. kita berada di pesta karnaval dan memasang sinyal tebal sebagai... [Baca selengkapnya]

Purnama di atas rumah panggung

Diposting oleh acuhlexton pada 22:48, 30-Mei-16

ThumbnailSuatu siang di bawah terik matahari kau membuat rumah panggung dengan mata yang menerawang jauh. ini untuk purnama yang akan menjaga jiwaku dari matahari, katamu. siang beranjak pergi ketika kau usai mendirikan rumah panggung dengan pilar-pilar kokoh yang anggun. kau duduk di anak tangga memandangi ikan-ikan kecil yang tengah bercengkrama di kolam yang mungil. kau masuk ke dalam kolam dan... [Baca selengkapnya]